Pertanda Lemahnya Iman

Pertanda

Oleh : Muzakkir BS, SH
Hakim Pengadilan Agama Purnabhakti

UANG (fulus) memang diperlukan dalam hidup ini dan berguna untuk menyoroti kearifan dan kebajikan. Barangsiapa yang mencarinya dengan cara yang benar akan menemui kesulitan karena keuntungan atau perolehan yang halal sedikit sekali dan jalannya pun tidak banyak bagi seorang yang adil dan merdeka. Makanya banyak orang yang baik hanya memiliki sedikit uang.

Namun sebaliknya orang yang keji, karena mereka memperoleh uang dengan cara yang curang dan tidak pernah ambil peduli bagaimana mereka mendapatkan uang, seringkali kita jumpai mereka kaya raya, hidup mewah dan masyarakat banyak yang iri dan dengki terhadap mereka. (Tahdzib al-Akhlaq; Abu Ali Ahmad Ibn Miskawaih, Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah Lebanon, Beirut, 1405 H).

Perilaku kurang terpuji di kalangan kita, sebagian orang yang mengaku dirinya muslim adalah sikap mereka yang tidak lagi membedakan mana yang haram dan mana yang halal. Asalkan diri untung secara duniawi, mereka hantam saja. Ironis memang. Bahkan muncul kalimat setan dari bibir mereka: “Mencari yang haram saja sudah sulit apalagi yang halal.”

Manakala mendengar perkara-perkara yang diharamkan mereka pun berkeluh kesah, kesal sambil bergumam begini: “Segalanya haram. Tak ada sesuatupun kecuali kamu mengharamkannya. Kamu telah menyuramkan kehidupan kami, membuat gelisah, menyempitkan dada kami. Ini haram, itu haram, tidak ada yang lain selain haram. Padahal katanya agama itu mudah, tidak sesempit itu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ungkapan barusan tercetus dari orang-orang yang menjadi hamba dan budak nafsu, mereka yang lemah jiwa dan sedikit ilmunya. Sebetulnya siapa saja yang berpikir logis pasti dapat menghitung dan memperbandingkan antara yang dilarang/diharamkan dengan yang dihalalkan atau yang diperbolehkan. Yang dilarang atau yang diharamkan oleh syariat hanya seumpama butir pasir (dapat dihitung) di tengah hamparan gurun sementara yang dihalalkan atau diperbolehkan tidak mungkin dapat kita hitung banyaknya.

Dalam nash-nash yang qoth’i (tegas), terdapat dalam Alquran dan Assunnah, yang diperinci hanya hal-hal yang dilarang/diharamkan saja sedangkan yang dihalalkan dan diperbolehkan adalah yang selebihnya yang tidak mungkin dapat dirinci. Allah yang Maha Pengasih terhadap hambanya menghalalkan untuk kita hal-hal yang baik yang tidak terhitung banyak dan jenisnya. Hal-hal yang diharamkan/dilarang dirinci dan dapat dihitung sehingga kita mengetahui dan menjauhinya.
Di antara rahmat Allah SWT, bahwa Ia menjadikan dasar segala sesuatu adalah halal sampai terdapat dalil yang mengharamkannya. Hal ini menunjukkan bahwa Dia, Allah Robbul Jalil adalah Maha Pengasih dan Maha Luas rahmat-Nya atas segenap hamba-Nya. Oleh sebab itu kita wajib taat, memuji dan bersyukur kepada-Nya.

Sebagian manusia, jika mereka menyaksikan hal-hal yang haram dihitung dan diperinci, jiwanya tiba-tiba terasa sesak karena keberatan terhadap hukum-hukum syariat. Ini menunjukkan betapa lemahnya iman dan betapa sedikit pemahaman mereka terhadap syariat.

Ikhwal melemahnya iman ini, Muhammad Sholih Al-Munajjid dalam bukunya Obat Lemahnya Iman mengatakan, sesungguhnya fenomena lemah iman termasuk sesuatu yang sudah merebak dan tersebar luas di kalangan kaum muslimin. Adanya bisikan ungkapan hati seperti mengapa aku merasakan adanya kekerasan dalam hatiku, aku tidak pernah mendapatkan kenikmatan dalam beribadah, aku tidak terpengaruh oleh bacaan Al-Qur’an, aku merasakan imanku seakan-akan berada di tepi jurang dan mengapa aku mudah sekali terjerumus dalam kedurhakaan, awas ini pertanda tensi keimanan Anda berada pada titik rendah yang kritis.

Masalah iman adalah masalah hati. Iman berada dalam hati. Hati merupakan sesuatu yang sensitif dan sekaligus esensial. Al-Qolbu (hati) dinamakan qolban karena proses perubahannya (at-taqallub) yang begitu cepat. Rasulullah SAW bersabda:

“Dinamakan hati hanya karena perubahannya. Sesungguhnya perumpamaan hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (HR Ahmad)

Syarat utama kesucian hati, kata Murtadha Muthahhari dalam kitab nya Al-’Adl Al-Ilahiy, adalah taslim (tunduk) kepada kebenaran. Taslim terbagi tiga tingkatan yaitu Taslim al-Jism (ketundukan fisik), Taslim Al’Awl (ketundukan akal) dan Taslim Al-Qalb (ketundukan hati).

Taslim hati adalah taslim yang muncul dari keimanan. Dengan demikian, ujar Murtadha, apabila taslim fisik dan taslim akal tidak dibarengi dengan taslim hati, berarti ia tidak beriman. Sebab, taslim hati berarti penyerahan segala wujud insani dan menafikan segala bentuk kekafiran dan pengingkaran.

Menurut Sukamto Nuri, BA dalam Petunjuk Membangun dan Membina Keluarga Menurut Ajaran Islam, sekiranya bibit iman itu dapat diumpamakan dengan sebuah biji dalam tumbuh-tumbuhan maka pertumbuhan dan perkembangan bibit iman itu sangat tergantung pada:

  • Tanah yaitu lingkungan, pergaulan, miliu. Lingkungan sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan karakter dan pribadi seseorang selain pertumbuhan iman. Lingkungan pertama adalah rumah tangga. Untuk mengembangkan iman, rumah tangga harus bernafaskan dan bersituasikan agama. Pendidik pertama adalah ibu. Nabi SAW bersabda:

    “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.” (Alhadist).

    Lingkungan kedua adalah sekolah/tempat bekerja. Lingkungan kedua ini adakalanya membantu dan melakukan pembinaan iman pada ling kungan pertama tapi adakalanya justru menghancurkan. Sedangkan lingkungan ketiga adalah di luar lingkungan pertama dan kedua. Jika tidak waspada di lingkungan ketiga ini dapat juga menghancurkan.

  • Air sebagai penyiram. Ia harus selalu disiram pada waktu-waktu tertentu. Siramannya berupa pendidikan dan penerangan agama yang bersumberkan pada tuntunan Alquran dan sunnah Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya orang mukmin itu bila disebut-sebut nama Allah itu gemetar hatinya dan bilamana dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah kuatlah imannya. Dan kepada Tuhannya mereka berserah diri.” (QS. Al-Anfaal : 2)

  • Sinar matahari. Yaitu hidayah dari Allah SWT. Sebagaimana peristiwa yang menimpa diri paman Nabi, Abu Thalib. Ia sangat berjasa kepada Nabi. Hidup dalam lingkungan yang baik karena selalu mendampingi Nabi dan sering mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan Nabi dan malah sering didoakan Nabi supaya segera dapat menyatakan keislamannya. Tapi karena tidak mendapat hidayah dari Allah SWT, matilah Abu Thalib dalam keadaan kafir. Bahkan Rasul SAW sendiri mendapat peringatan dari Allah SWT yang tercantum dalam QS Al-Qashshash 56. Oleh sebab itu, setiap muslim diwajibkan memohon hidayah kepada Allah SWT sekurang-kurangnya 17 kali sehari semalam sebagaimana tertera dalam QS Al-Fatihah 6-7:

    “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau telah memberi nikmat atas mereka. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”

  • Pupuk yaitu ibadah dan amal saleh. Baik ibadah khususiyah terutama shalat, puasa, zikir, membaca Al-Qur’an maupun ibadah umumiyah seperti berbuat jasa terhadap masyarakat.
  • Dipelihara dari hama/penyakit yakni kemaksiatan dan kemungkaran. Dosa merupakan titik-titik hitam dalam qalbun tempat iman. Bila qalbun tertutup oleh titik-titik hitam maka orang itu akan mempunyai tiga sifat yaitu shummun (tuli), bukmun (bisu) dan ‘umyun (buta) hatinya. Bila titik-titik hitam itu dibiarkan, tidak dihapus dengan istighfar dan taubat ia akan menutupi sinar iman yang ada pada qalbun itu sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah 7:

    “Allah telah mengunci mata hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”

  • Kesimpulannya:

  • Perkataan mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal tercetus karena godaan nafsu duniawi belaka. Cobalah bandingkan antara yang haram/dilarang dengan yang halal/diperbolehkan. Yang haram itu hanya secuil (dapat dihitung) yang tidak ada artinya jika dibandingkan dengan yang halal/diperbolehkan yang jumlahnya tidak mungkin dapat dihitung banyaknya. Menurut logika tentu saja kita lebih mudah mendapatkan yang jumlahnya banyak daripada yang sedikit.
  • Secara umum, untuk mengobati lemahnya iman dengan cara segera bertaubat. Lakukanlah ibadah secara khusyuk dan berkesinambungan. Tidak usah terus menerus akan tetapi tidak terputus.
  • Agama itu mudah (tidak membebani), itu betul. Tapi jangan diremehkan. Nabi SAW bersabda:

    “Sesungguhnya din (agama) itu adalah mudah dan tidaklah din itu dikeraskan oleh seseorang melainkan justru ia akan dikalahkan. Maka berbuatlah yang lurus dan sederhana.” (HR Bukhari)

  • Editor : Bedjo
    Sriwijaya Post – Jumat, 15 Juni 2012

    About Iwan Lemabang
    aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: