Peran dan Tanggung Jawab Ulama

Bismillah

Oleh : Zulfahmi

ULAMA adalah pewaris para Nabi, di tangan ulamalah umat Islam menggantungkan harapannya. Baik tidaknya sebuah masyarakat Islam itu tergantung pada ulama. Di zaman era globalisasi dan modernisasi ini, peran ulama sangat penting untuk mengubah nasib umat Islam yang semakin tidak menentu arah. Sebagai kaum mayoritas, umat Islam hilang kekuatan untuk menghadapi kekufuran yang terjadi saat ini. Umat Islam hanya bisa melihat kekufuran yang terjadi di depan mata tanpa bisa berbuat apa-apa. Malah sebagian umat Islam menjadi pelaku atau pendukung kekufuran itu sendiri.

Persoalanya sekarang dimanakah tanggung jawab para ulama dalam membimbing umat ini, ataukah ulama telah gagal dalam membimbing umat ini? Peran ulama hari ini begitu penting, ibaratnya adalah sebagaimana peran Nabi pada masa Jahiliyah. Mengapa saya katakan demikian, persoalan umat Islam hari adalah sangat mengkhawatirkan sehingga perlu diberikan perhatian yang sangat serius.

Persoalan yang paling meresahkan yang terjadi di kalangan umat Islam adalah kesyirikan terjadi dimana-mana. Penyebabnya adalah kebanyakan umat Islam tidak memahami bahwa yang dilakukannya adalah syirik, bahkan mereka menganggap itu adalah ibadah. Ini disebabkan adanya pihak-pihak tertentu yang mengelabui masyarakat dengan mengatasnamakan dirinya sebagai ulama sehingga membodoh-bodohi masyarakat awam. Padahal di dalam Alquran dijelaskan pelaku dosa syirik itu diharamkan surga baginya dan kekal dalam neraka.

Persoalan yang kedua adalah terjadinya perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Islam, dari dulu hingga sekarang permasalahan ini tidak pernah terselesaikan. Bahkan sebagaimana yang terjadi di Aceh persoalan itu dibiarkan begitu saja. Lahirnya berbagai macam kelompok dan aliran telah menyebabkan terpecah-belahnya umat Islam.

Satu aliran dengan aliran lainnya saling tuding saling fitnah dan menganggap dirinyalah yang paling benar, sementara aliran lain sesat. Bahkan sampai pada tahap boleh dihalalkan darahnya.

Dimana peran ulama?
Fenomena yang terjadi hari ini sangat meresahkan, di mana dalam satu masyarakat ada sebuah aliran yang mayoritas maka aliran yang minoritas disisihkan dan dikucilkan dalam masyarakat, bahkan sampai kepada pengeroyokan dan pembakaran rumah. Malah di suatu tempat sampai kepada tahap perebutan masjid dengan kekerasan dan ancaman pembunuhan. Dimanakah peran ulama?

Pertanyaan tersebut menarik dicermati. Persoalanya adalah siapakah ulama yang sebenarnya sekarang. Apabila ruang lingkupnya Aceh, maka siapakah ulama di Aceh yang sebenarnya? Ini bertujuan apabila kita sudah mendapatkan siapa indetitas ulama yang sebenarnya, maka mereka itulah yang kita harapkan agar persoalan umat Islam khususnya di Aceh segera diselesaikan.

Sebagaimana yang telah kita jelaskan di atas bahwa ulama adalah pewaris para Nabi, nabi tidak tidak diturunkan kepada aliran tertentu saja akan tetapi nabi diturunkan untuk seluruh umat, maka begitu juga hakikat ulama yang sebenarnya. Ulama tidak terkhusus untuk aliran tertentu saja akan tetapi seluruh umat Islam. Ulama-ulama yang seperti inilah yang akan dapat menyelesaikan persoalan umat Islam khususnya di Aceh.

Apabila persoalan umat Islam diserahkan kepada orang-orang yang dianggap ulama oleh aliran-aliran tertentu, maka persoalan umat Islam tidak akan terselesaikan karena pasti mereka akan membenarkan paham menurut keyakinan mereka. Akhirnya kebenaran bukan berdasarkan Alquran dan sunnah, akan tetapi berdasarkan kefatikan kepada aliran-aliran tertentu.

Ulama independen
Begitu juga apabila persoalan umat Islam diserahkan kepada yang dianggap ulama oleh aliran yang mayoritas, maka persoalan itu tidak akan menyelesaikan masalah malah akan dikucilkan aliran yang minoritas. Maka ulama yang dapat menyelesaikan persoalan umat Islam hari ini adalah ulama-ulama yang independen dan moderat, tanpa mengikuti aliran-aliran tertentu, bebas dari kefanatikan dan taasub. Mereka itulah yang kita harapkan untuk membimbing umat. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran (5:59): “Apabila terjadi perselisihan atau berbantah-batahan di kalangan umat Islam, maka wajib kembali kepada Alquran dan sunnah jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kiamat.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa jika kamu mengaku sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka setiap perselisihan yang menyebabkan terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam maka wajib menjadikan Alquran dan sunnah sebagai timbangan dalam mencari kebenaran. Bukan malah mempertahankan pendapat masing-masing dan menyalahkan orang lain.

Dalam tafsir Al-Manar yang tulis Rasyid Ridha di saat menafsirkan ayat di atas, maksud kembali kepada Alquran dan sunnah adalah apabila terjadi perselisihan di antara umat Islam, maka hendaklah ada satu lembaga para ulama yang menetapkan hukum bedasarkan timbangan Alquran dan sunnah. Setelah hukum itu ditetapkan maka wajib umat Islam mengikutinya.

Hal ini bertujuan supaya tidak terjadi perpecahan di kalangan umat Islam. Sebagaimana perselisihan dalam masalah tahlilan, ada yang mengatakan boleh dan ada yang mengatakan bid’ah (dengan alasan dan dalil masing-masing-ed), maka lembaga ulama yang indepeden wajib memutuskan hukum bagaimana sebenarnya menurut timbangan Alquran dan sunnah dengan melakukan muzakarah, sehingga hukumnya jelas tidak mengambang dalam masyarakat.

Dengan demikian tidak terjadi perpecahan dalam masyarakat dan dapat hidup dengan rukun dan damai dalam konsep persatuan, sebagaimana firman Allah dalam Alquran (3:105): “Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata.” Ini sangat jelas tidak ada keraguan sedikit pun bahwa umat Islam harus bersatu ibarat tubuh yang satu seperti kata pepatah Aceh, sapeu kheun sapeu pakat, lampoh jirat tapeugala.

Harus bersatu
Berselisih dan bercerai-berai dalam Islam sama dengan menghancurkan Islam itu sendiri, sebagaimana Rasulullah saw bersabda dalam satu hadis riwayat Musli: “Maka siapa yang memecah-belah persatuan umat ini, penggallah dengan pedangmu walau siapa pun dia.” Persatuan dalam Islam merupakan perkara yang sangat penting karena dengan bersatu umat Islam akan menjadi kuat tidak bisa dijajah dan dijadikan boneka oleh orang-orang kafir.

Penulis sangat mengharapkan kepada para ulama untuk segera menyelesaikan persoalan umat Islam, khususnya di bumoe Seuramoe Mekkah nyoe, supaya adanya ketenangan dalam beribadah serta hidup aman dan tentram. Jangan ada lagi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam, sebagaimana yang dianjurkan dalam Alquran (3:103): “Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dengan cara bersatu janganlah kamu bercerai-berai.”

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, apabila kita ingin melihat Islam maju dan berkembang serta ditakuti oleh lawan maka tidak ada cara lain umat Islam wajib bersatu. Jangan mencari perbedaan di antara kita, tapi carilah persamaan sehingga tidak ada permusuhan di antara kita.

* Zulfahmi, MA, Staf Pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikul Saleh, Lhokseumawe.

Editor : Bakri
Serambi Indonesia — Jumat, 30 Maret 2012

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: