Usaha dan Tawakkal

BISMILLAH

Oleh : Drs. H. Imron Rasyidi

Manusia yang diciptakan oleh Allah dengan predikat khalifah/pemimpin di muka bumi memiliki kapasitas dan otoritas sebagai pengatur management dunia menuju terciptanya kehidupan yang ideal dinamis dan harmonis (rahmatan lil ‘alamin).

Jadi dalam hidup ini kita diberi kebebasan memilih akan jadi apa, akan mengerjakan apa dan lain-lain yang kompleks dan multi dimensional, sepanjang kita mampu mengerjakan dan bisa merencanakan. Namun begitu tidak semua dapat dilaksanakan karena ada keterbatasan pengetahuan, keterbatasan kemampuan pada lingkungan.

Oleh karenanya ada dua kategori pilihan yaitu benar dan salah, kita bebas memilih salah atau benar tersebut, berbuat curang atau jujur, adil atau memihak, boros atau pelit dan berbagai pertimbangan lain. Pilihan terhadap berbuat kesalahan, keburukan kecurangan, kelicikan dan ketidakadilan tersebut dapat dipertahankan sepanjang masih bersembunyi dari peraturan-peraturan yang dibuat oleh manusia.

Baik dan buruk ini dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah yang hak dan bathil. Tanpa Al-Qur’an kita akan sulit menentukan baik baik dan buruk sampai pada tingkat terkecil. Di negara-negara liberal misalnya orang-orang menganggap bahwa kebebasan individual adalah yang paling utama diperhatikan.

Usaha menentukan mana baik dan mana buruk inilah adanya wahyu dari Allah SWT karena pilihan terhadap yang baik dan benar perlu dipertanggungjawabkan, diadili di Yaumil Akhir nanti sebagai perimbangan dunia sekarang ini. Surga dan neraka pun dimaksudkan Allah sebagai ganjaran perbuatan di dunia, dalam kata lain disebut amal dan dosa.

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada mannusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dalim kepada diri mereka sendiri.” (QS. Yunus: 44)

Tanpa adanya pilihan bebas ini, tidak perlu ada wahyu karena sudah barang tentu manusia akan diciptakan semuanya baik. Setelah ditentukan patokan mana yang hak dan mana yang bathil, maka kepada manusia diberikan kebebasan memilih jalan hidup, jalan mencapai sukses.

Kewajiban Tawakkal.

Tawakkal adalah berserah diri kepada Allah, tetapi setelah itu bukan tidak ada lagi perjuangan dalam Islam. Tawakkal dilaksanakan setelah segala perjuangan itu dimaksimalkan, sehinna setelah itu do’a dapat dilangsungkan dengan khuyuk karena sadar akan ke-Mahakuasaan Allah. Hal tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an dengan sangat tepat sebagai berikut:

“……….bila engkau telah membulatkan tekad mka berserah dirilah kepada Allah……..” (QS. Ali Imran: 159)

Banyak hal-hal di dalam agama Islam yang tidak bisa dihukum, seperti kewajiban yang tidak dilaksanakan karena lupa, khilaf, tidak mampu an tidak sengaja. Hal itu adalah karena semuanya itu dikuasai oleh Allah SWT. Misalnya lupa, kendatipun menjengkelkan tetapi adalah merupakan rahmat Allah.

Bayangkan saja bila kita tidak dapat melupakan peristiwa lucu dalam hidup kita mungkin sepanjang hari kita akan tertawa terus. Sebaliknya bila kita tidak dapat melupakan peristiwa-peristiwa sedih dalam hidup kita, barangkali akan sangat mengganggu kita menangis dari tahun ke tahun.

Determinisme Religius adalah keterbatasan pada takdir yang dikehendaki Allah. Sebagai contoh adalah kita lihat apakah seseorang itu itu ditakdirkan menjadi penguasa atau menjadi masyarakat biasa.

Sebenarnya memang dapat kita ketahui bahwa kita sebagian terbatas karena kita manusia tidak dapat seluruhnya dapat menentukan pilihan dengan bebas. Misalnya kita tidak dapat memilih akan bermimpi apa nanti malam, atau tidak dapat menentukan akantidur mendengkur atau tidak mendengkur.

Orang tua kita mengatakan bahwa yang ditentukan oleh Allah adalah jodoh, maut, rezeki dan langkah. Namun apabila disuguhkan kita bisa saja memilih jodoh kita, yaitu satu dari dua perempuan yang ditentukan sebagai istri.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyampaikan hal-hal determinisme tersebut adalah sebagai berikut:

“Maka barangsiapa yang Allah kehendaki agar terpimpin, maka hatinya dibukakan untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang Dia (Allah) kehendaki untuk tersesat, maka hatinya dijadikan sempit lagi bingung……..” (QS. Al-An’aam: 125)

“…….dan ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa sesungguhnya Allah-lah yang membolak-balikkan hati seseorang. Dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dihimpun kembali.” (QS. Al-Anfaal)

“Sebagai sesuatu Sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu.” (QS. Al-Fath: 23)

Sunatullah atau hukum alam yang ditentukan Allah sebagaimana ayat tersebut di atas dapat dilihat dalam ilmu-ilmu sosial. Oleh karenanya para ilmuwan dengan mudah mencari dan menemukannya seperti Isaac Newton, Thomas Alva Edison, Guglielmo Marconi, Albert Einstein, Boyle dan Gay Lussac serta lain-lain untuk ilmu-ilmu pasti. Atau juga Sigmund Freud, Abraham Maslow, James D. Mooney, George Terry, Likert dan Pearson untuk ilmu-ilmu sosial.

Sampai sekarang untuk menentukan ukuran suatu benda kita namakan dengan kadar, yaitu berasal dari kata Qadar, yang berarti ketentuan untuk suatu benda mati maupun benda hidup yang sudah tidak dapat diubah lagi, karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT atau Sunatullah.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: