Hikmah Shalat Berjemaah.

Banyak umat Islam yang menganggap remeh urusan shalat berjemaah. Kenyataan ini dapat dilihat di sekitar kita. Masih bagus mau shalat, pikir kebanyakan orang, sehingga tidak berjemaah pun masih dianggap sudah menjadi muslim yang baik, layak mendapat surga dan ridha Allah. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam, dalam shahihain, sampai pernah hendak membakar rumah para sahabat yang enggan berjemaah. Kisah ini seharusnya dapat membuka mata kita betapa pentingnya berjemaah dalam melaksanakan rukun Islam kedua ini.

Jika mengamati hadits-hadits yang berkaitan dengan shalat berjemaah, barangkali kita dapat menyimpulkan sendiri bahwa hukum shalat berjemaah “nyaris” wajib. Bagaimana tidak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa hanya ada tiga hal yang dapat menjedi alasan bagi kita untuk meninggalkan shalat berjemaah; hujan dera, sakit dan ketiduran. Di luar itu itu, beliau sangat murka melihat umat Islam menyepelehkan shalat berjemaah.

Perhatian besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam ini cukup beralasan. Karena di dalam shalat berjemaah terdapat banyak hikmah dan manfaat bagi umat Islam, baik untuk maslahat dien, dunia, dan akhirat mereka. Berikut ini beberapa hikmah dan manfaat yang bisa diunduh umat Islam dari shalat berjemaah:

1. Allah telah mensyariatkan pertemuan bagi umat ini pada waktu-waktu tertentu. Ada yang dilaksanakan secara berulang kali dalam sehari semalam, yaitu shalat lima waktu dengan berjemaah di masjid.

2. Sebagai bentuk ibadah kepada Allah melalui pertemuan ini dalam rangka memperoleh pahala dari-Nya dan takut akan adzab-Nya.

3. Menanamkan rasa saling cinta. Melalui pelaksanaan shalat shalat berjemaah, akan saling mengetahui keadaan sesamanya.

4. Ta’aruf (saling mengenal).

5. Memperlihatkan salah satu syi’ar Islam terbesar.

6. Memperlihatkan kemuliaan kaum muslimin. Yaitu jika mereka masuk ke masjid-masjid dan keluar secara bersamaan, maka orang kafir dan munfik akan menjadi cuit nyalinya.

Masih banyak lagi hikmah dan manfaat shalat berjemaah. Semoga kita memakmurkan rumah-rumah Allah yang bertebaran di sekeliling kita. Wallahualam bishawab.
br />Larangan Lewat di Depan Orang Shalat

Melewati orang di depan orang yang sedang shalat adalah hal yang dilarang dalam agama. Dalilnya adalah hadits berikut ini, Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui tentang dosanya, maka pastilah menunggu selama 40 lebih baginya daripada lewat di depannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka agar kejadian seseorang lewat di depan kita yang sedang shalat tidak terjadi, alangkah baiknya bila kita tidak shalat di “jalanan” yang kemungkinan akan dilewatti orang. Banyak yang sering kita temui, orang-orang yang shalat justru tepat di mulut pintu. Naudzubillah. Inilah salah satu keteledoran besar seseorang ketika shalat. Padahal baginda Nabi telah memberikan contoh dalam hal ini.

Caranya, kita pasang pembatas dengan meletakan benda-benda tertentu di depan kita. Misalnya batas sajadah, atau buku, tas, tongkay, pensil atau apapun. Dengan adanya batas itu, maka orang-orang akan tahu bahwa mereka tidak boleh berjalan di situ. Kalau mau lewat, maka silahkan lewat di luar batas yang sudah dibuat.

Kalau Anda suka memperhatikan perilaku sebagian orang, mungkin Anda pernah mendapati mereka apabila melakukan shalat sunnah, bergerakmendekati tiang atau tembok. Sebenarnya itu juga termask bentuk menghindarkan diri dari dilewati orang lain. Tembok atau tiang adalah batasan yang tidak boleh dilewati. Dengan adanya dalil dari sunnah nabawiyah yang menganjurkan hal ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim:

“Janganlah kalian shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas) dan jangan perbolehkan seseorang lewat di depanmu.” (HR. Muslim)

Dari Abi Said Al-Khudri RA barkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila kalian shalat maka gunakanlah sutrah (pembatas) dan hendaklah mendekat dan jangan membiarkan seseorang lewat di tengahnya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan haditsi ini hasan)

Dari Sahal Ra bahwa Nabi SAW bersabda:

“Apabila kamu shalat dengan menggunakan sutrah (pembatas) maka mendekatlah dan jangan sampai dipotong syaitan.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadits shahih)

Para ulama menuliskan dalam banyak kitab fiqih bahwa batas jarak itu adalah 3 zira’ (hasta). Sehingga bila jarak antar orang shalat dengan pembatas itu lebih dari hasta, maka dianggap boleh dilewati dan tidak ada dosa buat yang lewat di depannya. Ukuran jarak 3 hasta ini oleh para ulama dianggap berlaku juga bila tidak ada pembatas. Sehingga lewat di depan orang shalat asalkan sudah berjarak 3 hasta dianggap tidak melanggar larangan. Sedemikian penting nilai kekhuyukan shalat ini, hingga jarak aman pun perlu dijaga. Wallahualam bishawab.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: